FC Barcelona Pilihan yang Menyakitkan Belum Tentu Menyakitkan

Pilihan yang Menyakitkan Belum Tentu Menyakitkan

Posted by Tari Selasa, 12 Juni 2012 0 komentar


   Apa perasaan anda ketika Anda yang telah lama tidak berjumpa dengan orang tua Anda tidak dapat bertemu dengan mereka padahal Anda sudah diambang pintu menuju rumah ?
 Sedih ? ya, bahkan sangat sedih. Terpuruk atau bahkan seperti kata trend masa kini, galau.
Saat itu, saya yang telah mengutuskan untuk mengambil cuti kerja selama lima hari untuk pulang ke kampung halaman saya yaitu Singkawang (Kalimantan-Barat) merasakan banyak sekali rintangan. Mulai dari salah transfer uang tiket, kesulitan dalam meminta cuti dan terakhir, saya yang tiba-tiba dihubungi oleh pihak panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan oleh dinas pendidikan Kepulauan Riau untuk mengikuti tahap final yaitu presentasi. Bimbang, ya sangat bimbang. Di satu sisi, saya yang sangat ingin berjumpa dengan orang tua saya namun di sisi lain saya tidak mau menyia-nyiakan karya tulis yang telah saya buat dengan susah payah. Orang tua saya mendukung saya untuk mengikuti tahap presentasi karya ilmiah saya. Mereka merelakan tiket yang sudah dibeli. Mereka menganggap prestasi anaknya lah yang lebih penting daripada berjumpa dengan mereka. Saya yang merasakan kangen, tidak sanggup menerima statement orang tua saya yang dengan mudahnya berkata untuk merelakan tiket yang sudah saya beli. Semalaman saya bergumul, saya yang ragu akhirnya membulatkan tekat saya untuk bertemu keluarga saya dan merelakan karya ilmiah saya.
            Sabtu, 02-Juni 2012. Saya menerima kabar bahwa pesawat yang akan kami gunakan mengalami delay selama dua jam disebabkan oleh adanya pesawat yang tergelincir di area Bandara supadio. Jam 12.00 Wib, saya bersama teman saya berangkat ke bandara Hang Nadim untuk check in. Sesampainya di Bandara, saya menerima telpon dari mama saya bahwa mereka semua sudah di bandara. Saya sangat senang mendengar berita tersebut. Namun, apa yang terjadi ? ketika saya menolehkan kepala ke boarding keberangkatan, ternyata pesawat yang akan kami tumpangi mengalami pembatalan penerbangan. Saya yang shock dan sedih langsung bergegas ke bagian customer service pesawat tersebut. Ternyata pesawat yang tergelincir tersebut belum dapat dievakuasi sehingga penerbangan pesawat kami di batalkan. Mendengar berita tersebut spontan saya langsung menelpon mama saya. Mama yang juga terkejut berkata “ mungkin ini bukan waktu yang tepat buat kita untuk bertemu, lanjutkanlah prestasimu nak ! Dari awal mama sudah bilang, mama tidak mempermasalahkan uang mama yang melayang dengan sia-sia demi prestasi mu nak.”
Merenung, bahkan bergumul dengan diri saya sendiri untuk mengutuskan apakah saya tetap melanjutkan untuk pulang ke rumah atau saya melanjutkan perjuangan saya untuk mepresentasikan karya ilmiah yang telah saya buat ataupun memilih keduanya.
            Akhirnya, kami mengutuskan untuk pulang ke kost. Sesampainya di kost, saya mebulatkan tekat saya untuk melanjutkan perjuangan saya mepresentasikan karya ilmiah yang telah susah payah saya buat. Siang itu juga, saya mendatangi salah satu agen travel pesawat tersebut. Saya membatalkan keberangkatan saya ke kampung halaman. Setelah itu, saya langsung berangkat ke Tanjung Pinang untuk menenangkan pikiran saya bersama teman saya.
            Saya berangkat empat hari lebih awal dari jadwal presentasi. Di Tanjung Pinang selama empat hari tersebut saya berekreasi, menenangkan pikiran saya. Tiba pada hari H, saya check in ke salah satu Hotel di Tanjung Pinang yaitu Bintan Beach Resort. Pada malam pertama kami mendapatkan  pengarahan tentang lomba yang akan diadakan besok serta pencabutan nomor undi. Keesokan harinya, waktu untuk berjuang pun dimulai. Satu per satu peserta maju mempresentasikan karya ilmiahnya masing-masing. Wow, Karya ilmiah mereka sangat menakjubkan. Mereka mampu mengangkat topik masalah yang menjadi trend saat ini. Seperti kemiskinan, kepemimpinan, sampah dan lain-lain. Saya sendiri berjuang dibidang pendidikan.
            Setelah dari pagi sampai malam berjuang, kami pun deg-deg an menunggu hasil pengumuman yang seharusnya telah diumumkan malam itu. Namun, pengumuman harus diundur karna kepala Dinas yang tidak dapat hadir untuk penyerahan piala.
            Keesokan harinya, Kepala dinas telah hadir dan acara pun dimulai. Jatung pun berdetak kencang. Setelah pengumuman para juara di bidang IPS, maka inilah saatnya pengumuman di bidang IPA dan Pendidikan. Dan ternyata saya meraih juara dua. Senang, shock campur aduk menjadi satu. Setelah penyerahan piala, saya bergegas menelpon mama dan memberitahukan tentang berita mengembirakan tersebut. Sentak mama shock dan terdengar suara tangisan di telpon. Makasih mama buat support nya, makasih papa buat motivasinya.
Dari pengalaman ini saya belajar banyak hal. Terutama dalam memilih. Pilihan yang terkadang terlihat menyakitkan belum tentu menyakitkan. Kita tidak bisa memilih keduanya ketika kita disuruh untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut. Beranilah dalam memilih, Bijak lah dalam memilih. Tentukan pilihan mu guys :)

Comments
0 Comments