A. Latar Belakang
Indonesia dengan jumlah 242.968.342 jiwa merupakan Negara keempat
setelah Cina sebanyak 1.330.141.295 jiwa, India sebanyak 1.173.108.018
jiwa dan Amerika Serikat sebanyak 310.232.863 jiwa yang memiliki jumlah
penduduk tertinggi di dunia. Salah satu Provinsi yang menyumbang angka
kehidupan tertinggi di Indonesia yakni Provinsi Kepulauan Riau khusunya
Kota Batam. Batam menempati posisi ketiga setelah Jakarta dan Jayapura.
Pada akhir 2011, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota
Batam mencatat jumlah penduduk Batam mencapai mencapai 1.056.701 jiwa
terus meningkat sejak kota industri ini mulai dibuka. Pertambahan
penduduk di Kota Batam mencapai 14% setiap tahunnya. Sedangkan untuk
tahun 2012 hingga bulan Maret 2012 bertambah sekitar 3.000 jiwa
perbulannya sejak Januari 2012 atau menjadi 1,149. 902 juta jiwa.
Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk Di Kota Batam tidak
seimbang.
Peningkatan kependudukan di Kota Batam
tidak dapat dipungkiri lagi mengingat Kota Batam merupakan salah satu
Kota yang berkembang pesat di Indonesia. Kota Batam juga turut memberi
kontribusi terhadap kemajuan ekonomi Nasional. Posisinya yang sangat
dekat dengan negara industri seperti Singapura dan Malaysia membuat
kawasan ini sangat berpotensi untuk menampung luapan ekonomi dari Negara
yang sudah tergolong maju tersebut. Nilai ekonomis kawasan ini sudah
tak terbantahkan sejak dikembangkan secara terencana oleh pemerintah
melalui BP kawasan. BP Kawasan merupakan lembaga yang dibentuk
berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973 untuk mengembangkan Batam agar
dapat bersaing dengan Negara lain se-asia. Inilah salah satu yang
menjadi alasan masyarakat untuk bermigrasi ke Kota Batam.
Pernikahan pendatang di Kota Batam turut meyumbang angka kependudukan
di Kota Batam yang mulai padat saat ini. Dengan meningkatnya
kependudukan di Kota Batam menyebabkan timbulnya masalah sosial di Kota
Batam. Hal ini akan berdampak lebih buruk lagi jika tidak diupayakan
pengendaliannya. Pendidikan kependudukan di Kota Batam dinilai sangat
penting untuk mencegah terjadinya kesejangan sosial serta untuk menekan
angka peningkatan penduduk di Kota Batam sehingga pembangunan di Kota
Batam dapat merata. Terbukanya wawasan masyarakat Kota Batam tentang Keluarga Sejahtera melalui pendidikan kependudukan diharapkan dapat menunjang Batam sebagai kota industri di Indonesia mengingat keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas penduduk dan bukan oleh ketersediaan sumber daya alam.
B. Masalah – Masalah yang Dihadapi Kota Batam
Meningkatnya pertumbuhan penduduk di Kota Batam menyebabkan munculnya masalah-masalah yang dapat menganggu pembangunan Kota Batam sebagai salah satu kota yang berpotensi di Indonesia. Masalah – masalah tersebut adalah :
1. Masalah Imgrasi
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk berdasarkan Status Migrasi di Kepulauan Riau Tahun 2010
Sumber : BPS Kepulauan Riau
Berdasarkan Tabel 1.1 terlihat jelas bahwa Batam memiliki angka
tertinggi dalam menampung imigran dari luar Kota Batam. Bahkan pendatang
lebih mendominasi daripada penduduk asli Kota Batam yakni Suku melayu.
Terlihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 1.2 Komposisi Etnis Kota Batam tahun 2000
Dominasi penduduk pendatang ini dapat menyebabkan hilangnya nilai budaya etnis Kota Batam yakni etnis melayu. Perselisihan antar suku juga berpotensi terjadi dengan adanya keragaman etnis yang terdapat di Kota Batam.
2. Masalah Angka Kelahiran
Grafik 1.1 Rasio Anggota Keluarga Usia 0-4 Tahun (Balita) Dengan Wanita Usia Subur Tahun 2012
Sumber : BKKBN Kepulauan Riau
Grafik di atas menunjukkan rasio antara jumlah anak usia 0-4 tahun dengan jumlah Wanita Usia Subur (15-49 tahun), dimana pengukuran ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam melihat perkembangan angka kelahiran di suatu tempat. Semakin kecil rasionya maka diasumsikan semakin kecil angka kelahirannya. Grafik di atas memperlihatkan rasio Balita terhadap WUS hasil pendataan keluarga pada tahun 2012 di Kepulauan Riau. Dari 1000 WUS, jumlah balita yang ada sebanyak 354. Pada tingkat Kabupaten Kota, angka rasionya tertinggi di Kota Batam 459 per 1.000 WUS. Ini menunjukkan bahwa tingkat fertilitas di Kota Batam sangat tinggi dibandingkan dengan kota lainnya di Kepulauan Riau. Berdasarkan grafik diatas dapat dijabarkan beberapa masalah (terkait dengan SDM) sebagai berikut :
1) Jika fertilitas semakin meningkat maka akan menjadi beban pemerintah dalam hal penyediaan aspek fisik misalnya fasilitas kesehatan ketimbang aspek intelektual.
2) Fertilitas meningkat maka pertumbuhan penduduk akan semakin meningkat tinggi akibatnya bagi suatu negara berkembang akan menunjukan korelasi negative dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.
3. Masalah Komposisi Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja
Tabel 1.3 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2012
Sumber : BPS Kepulauan Riau
Berdasarkan hasil sensus tahun 2010, tampak penumpukkan tertinggi terjadi pada usia 25 - 29 sebanyak 94142 berjenis kelamin laki-laki dan 96750 perempuan kemudian penumpukan usia tertinggi kedua terdapat pada usia 0 – 4 tahun yakni sebanyak 87875 berjenis kelamin laki-laki dan 82391 berjenis kelamin perempuan. Penumpukkan penduduk dengan usia 0 – 4 tahun dapat menimbulkan masalah yakni :
- Aspek ekonomi.
Kemampuan ekonomi yang kurang dapat pula berakibat pada pemenuhan makanan yang dibutuhkan baik jumlah makanan (kuantitatif) sehingga dampak lebih lanjut adalah adanya rawan atau kurang gizi (malnutrition). Pada gilirannya nanti bila kekurangan gizi terutama pada usia muda ( 0 - 4 tahun), akan mengganggu perkembangan otak bahkan dapat terbelakang mental ( mental retardation ). Ini berarti mengurangi mutu SDM masa yang akan datang.
- Aspek pendidikan.
Usia 0 – 4 tahun membutuhkan pendidikan yang ekslusif untuk menunjang masa depan. Melihat kondisi seperti ini, Batam memerlukan instansi pendidikan dalam jumlah yang banyak untuk dapat menampung penduduk berusia sekolah sehingga pendidikan anak usia dini dapat terjamin.
Tabel 1.4 Pendataan KK di Kepulauan Riau Tahun 2012
Sumber : BKKBN Kepulauan Riau
Grafik 1.2 Presentase KK Menurut Karakteristiknya di Kota Batam, 2012
Sumber : BKKBN Kepulauan Riau
Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang telah berusia 10 Tahun ke
atas. Terdiri dari yang sudah bekerja maupun yang belum bekerja ( BPS
1994, 30). Penduduk yang tergolong amgkatan kerja dikenal dengan Tingkat
Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK menurut umur mengikuti pola
huruf "U" terbalik. Angkatan rendah pada usia-usia muda karena sekolah,
kemudian naik sejalan kenaikan umur sampai mencapai 25 -29 tahun,
kemudian turun secara perlahan pada umur-umur berikutnya (antara lain
karena pensiun).
Dapat dilihat di Tabel 1.4 bahwa
Batam memiliki KK terbanyak dari daerah yang lain di Kepulauan Riau
yakni sebanyak 227.259. Angka kesempatan kerja yang merupakan
perbandingan antara penduduk yang bekerja dengan angkatan kerja pada
tahun 2012 cukup tinggi yaitu sekitar 92,80%. Ini berarti angka
penganguran kurang lebih hanya 7,20 % berdasarkan grafik 1.2.
Kemungkinan meningkatnya jumlah pengangguran di Kota Batam dapat terjadi
sewaktu – waktu. Disebabkan oleh Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pihak
Perusahaan asing yang pernah terjadi di tahun 2011, beberapa perusahaan
memutuskan hubungan kerja sebanyak 3.615 Karyawan.
Rendahnya kualitas pendidikan di Kota Batam juga dapat terlihat jelas
pada grafik 1.2 dimana kebanyakan penduduk Kota Batam hanya memiliki
ijazah tamat SLTA, padahal Batam merupakan Kota industry yang haus akan
SDM yang memiliki pendidikan tinggi untuk menunjang suksesnya kerja sama
antar perusahaan asing.
Masalah yang timbul akibat keadaaan ini adalah :
- Lapangan Kerja
Penumpukan
jumlah penduduk usia muda atau produktif memerlukan persiapan lapangan
kerja masa mendatang yang lebih luas. Hal ini merupakan bom waktu
pencari kerja atau penyedia kerja. Apabila tidak dipersiapkan SDMnya dan
lapangan kerja akan berdampak lebih buruk pada semua aspek kehidupan.
- Aspek Jenis Kelamin
Penduduk
berusia produktif berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan
laki-laki sehingga fertilisasi diprediksikan akan lebih meningkat.
- Aspek Pendidikan
Rendahnya pendidikan di Kota Batam terlihat dengan banyaknya penduduk yang hanya memiliki ijazah SLTA akan berdampak kepada jumlah pengangguran akibat tidak sesuainya kemampuan yang dimiliki dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.
4. Masalah Kemacetan
Tidak dipungkiri lagi macet merupakan pemandangan yang lumrah di
beberapa arus jalan di Kota Batam terutama di jam – jam pergi dan pulang
kerja ataupun sekolah yakni pada pagi hari dan sore hari menjelang
malam. Seperti di Jalan Bunga raya dan Batam center. Kemacetan ini
disebabkan oleh melunjaknya kendaraan yang digunakan oleh masyarakat
Batam sementara ruas jalan tidak cukup untuk menampung banyaknya volume
kendaraan yang ada. Kemacetan juga terjadi akibat tidak sesuainya
pengaturan lampu rambu lalu lintas di titik kemacetan tersebut.
5. Krisis Air
Jika pertambahan penduduk semakin meningkat dari tahun ke tahun,
kemungkinan persediaan air di Kota Batam tidak cukup dan mengakibatkan
terjadinya krisis air yang secara terus menerus di Kota Batam. Kondisi
ini disebabkan oleh kapasitas waduk - waduk yang terdapat di Kota Batam
tidak memadai. Waduk yang ada di Kota Batam hanya sanggup memasok air
bersih sekitar satu juta warga.
6. Penumpukan Sampah
Meningkatnya penduduk disuatu wilayah otomatis akan menambah jumlah
sampah yang dihasilkan dari barang, makanan ataupun minuman yang telah
digunakan atau dikonsumsi. Sampah yang menumpuk dapat terlihat jelas di
daerah Batu Aji, Tanjung Pantun dan Bengkong. Suasana daerah yang kotor serta banyak
sungai-sungai yang beralih fungsi menjadi “tong sampah” masyarakat
setempat. Sampah yang dihasilkan oleh Industri juga tak dipungkiri
membanjiri Kota Batam mulai dari limbah kertas HVS hingga limbah-limbah
hasil produksi Industri lainnya
C. Solusi
Untuk Masalah Migrasi:
Mau ngadu nasib tapi ga ada skill, yang penting usaha
- Mengadakan pengecekan tujuan berkunjung ke Kota Batam dimana pengunjung kota Batam diintrogasi terlebih dahulu tujuan datang ke kota Batam, jika ingin liburan dan dalam jangka waktu yang lama diwajibkan untuk membuat surat ijin sejenis visa di kantor imigrasi serta harus membawa jumlah minimal uang yang ditetapkan.
- Mengadakan penertiban bagi penduduk yang tidak memiliki KTP Kota Batam.
Untuk Masalah Angka Kelahiran :
Sudah, dua anak saja cukup
-
Wanita yang bertempat tinggal di Kota Batam dan telah berkeluarga serta
telah memiliki anak berjumlah dua diwajibkan untuk mengikuti program KB
-
Peningkatan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan perempuan dan
keluarga untuk mengentaskan kemiskinan, pengangguran. Penguatan keluarga
sebagai basis pendidikan dan pembentukan anggota keluarga.
- Menyerasikan dan mensosialisasikan kebijakan pengendalian penduduk
-
Menerapkan pendidikan kependudukan sebagai mata pelajaran ataupun mata
kuliah yang wajib ada di setiap institusi pendidikan setidaknya sebagai
muatan lokal.
- Meningkatkan kualitas SDM dalam pengelolaan KB
Untuk Masalah Komposisi Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja:
Efek jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan lebih banyak
-
Pemerintah Kota Batam dianggap perlu menambah lapangan pekerjaan di
Kota Batam, baik dari pemerintah sendiri ataupun menjalin kerja sama
dengan perusahaan asing.
- Mengadakan pelatihan dan peningkatan mutu SDM di Kota Batam untuk memenuhi spesifikasi lapangan kerja yang ada.
- Menambah instansi pendidikan di Kota Batam baik PAUD, SD, SMP maupun SMA.
Untuk Masalah Kemacetan:
Macet dimana-mana broo
- Membatasi penjualan mobil pribadi dan lebih memberdayakan transportasi umum agar tingkat kemacetan dapat diminimalisir.
- Menciptakan rute-rute transportasi umum yang dapat menjangkau setiap daerah di Kota Batam
- Pemerintah diharapkan dapat menjamin keamanan transportasi umum.
Untuk Masalah Krisis Air:
Indonesia tanah AIR beta, tapi kok krisis air siih
- Menciptakan waduk baru untuk memenuhi kebutuhan air warga Kota Batam.
-
Memberikan perawatan yang lebih maksimal terhadap waduk-waduk di Kota
Batam sehingga dapat beroperasi maksimal dalam memasok air untuk warga
Kota Batam.
- Menciptakan inovasi baru dalam pengolahan air kotor menjadi air bersih yang layak untuk digunakan.
Untuk Masalah Penumpukkan Sampah:
Duuh, masih zaman buang sampah disungai
-
Teknologi baru diperlukan dalam menangani masalah sampah yang ada di
batam. Sistem open dumping sudah selayaknya ditinggalkan dan ditukar
dengan sanitary landfill, selain menjamin kebersihan lingkungan, juga
dapat menghasilkan energy baru untuk listrik
-
Perlunya penghimbauan bagi masyarakat setempat terutama di daerah
bengkong dan batu aji oleh pemerintah agar membuang sampah pada
tempatnya serta menerapkan sanksi jika melanggar ketentuan dari
pemerintah tersebut.
- Menggalakan program daur ulang seperti pembuatan eco enzyme dan lain-lain.
- Menerapkan program Go Green dalam penggunaan kertas HVS.
- Membuka lapangan kerja dalam bidang pengolahan kembali sampah menjadi barang yang memiliki nilai jual.
D. Kesimpulan
Salah satu Kota penyumbang tingkat kependudukan tinggi di Indonesia
adalah Kota Batam. Penyebab utama meningkatnya jumlah penduduk di kota
batam meliputi dua aspek yakni banyaknya jumlah imigrasi dan jumlah
kelahiran bayi. Namun bila dibandingkan, jumlah imigrasi merupakan
faktor utama yang menyebabkan kepadatan penduduk daripada jumlah
kelahiran bayi setiap tahunnya. Kota Batam sebagai kota Industri
mempunyai peranan terhadap kemajuan perekonomian di Indonesia. Inilah
yang menjadi daya tarik Kota Batam bagi orang yang hendak bermigrasi ke
Kota Industri ini dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan yang layak
serta dapat memperbaiki kualitas hidup seseorang.
Pertumbuhan penduduk selain dipengaruhi oleh imigrasi juga dipengaruhi
oleh angka kelahiran. Tampak pada grafik 1.1 dimana tingkat kependudukan
untuk usia 0 – 4 tahun tertinggi terdapat di Kota Batam. Pertumbuhan
penduduk tentunya tidak berdampak baik bagi pembangunan Kota Batam
mengingat masyarakat adalah objek dan subjek dalam pembangunan.
Sejahteranya masyarakat yang berdomisili di Kota Batam merupakan
indikator utama kesuksesan pembangunan Kota Batam.
Pemerintah Kota
Batam haruslah menerapkan kebijakan terhadap para imigran yang hendak
berdomisili di Kota Batam seumur hidup. Mulai dari pengecekan saat
memasuki Kota Batam baik melalui bandara maupun pelabuhan. Layaknya saat
ingin berkunjung ke luar negeri, sehingga tingkat imigran dapat
diminimalisir.
Untuk menekan angka kelahiran,
pengalakan program KB serta lebih memberdayakan perempuan sehingga
tingkat fertilitas dapat diminimalisir. Perempuan dengan tingkat
kesibukan tinggi serta memiliki pendidikan yang mapan akan lebih
mempertimbangkan jumlah anak yang dimiliki. Sehingga tingkat
kesejahteraan di Kota Batam dapat meningkat.
E. Daftar Pustaka
Buku :
Lipi. 2010. Jurnal Kependudukan Indonesia Vol 5, No.1. Yayasan Obor Ind.
M. Heer, David. 1985. Masalah Kependudukan di Negara Berkembang. Bina Aksara, Jakarta.
Rusli, Said. 1989. Pengantar Ilmu Kependudukan. Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.
Internet :
Anjasfianto, Zabur. Pengangguran di Batam Didominasi Tamatan SLTA. 2011. http://batam.tribunnews.com/2011/03/18/pengangguran-di-batam-didominasi-tamatan-slta. Diakses tanggal 17 Juni 2012
Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau. 2010. http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=21&wilayah=Kepulauan-Riau. Diakses tanggal 12 Juni 2013.
Gunawan, Chandra. Setiap Bulan Penduduk Batam Bertambah 3.000 Jiwa. 2012. http://www.bisnis-kepri.com/index.php/2012/04/setiap-bulan-penduduk-batam-bertambah-3-000-jiwa/. Diakses tanggal 17 Juni 2013
Naim, YJ. Pertumbuhan Penduduk Batam Tertinggi Ketiga Di Indonesia. 2011. http://kepri.antaranews.com/berita/16369/pertumbuhan-penduduk-batam-tertinggi-ketiga-di-indonesia. Diakses tanggal 12 Juni 2013
Panama, Nikolas. Pertumbuhan Penduduk Kepri Tertinggi Se-Sumatra. 2010. http://kepri.antaranews.com/berita/13886/pertumbuhan-penduduk-kepri-tertinggi-se-sumatra. Diakses tanggal 12 Juni 2013
Profil Kabupaten / Kota Batam Kepulauan Riau. http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/kep_riau/batam.pdf. Diakses tanggal 12 Juni 2013.
Radar Kepri. Pertumbuhan Penduduk Batam Mencapai 14 Persen Setiap Tahun. http://www.radarkepri.com/perumbuhan-penduduk-batam-mencapai-14-persen-setiap-tahun/. Diakses tanggal 12 Juni 2013.