Karya Tulisku Membawaku Ke Kupang, NTT
Kamis, 23 Mei 2013
0
komentar
Siang itu saya mendapatkan SMS dari
salah satu panitia Lomba Karya Tulis Sejarah tingkat Nasional bahwa saya
lolos menjadi finalis dan minggu depan harus berangkat ke Kota Kupang
untuk menjalani seruntunan acara yang telah disusun. Tentu saja hari itu
saya merasa tengah bermimpi di siang bolong. Terang saja, saya membuat
karya tulis itu dengan hati yang pesimis, hanya mengharap sertifikat
lomba tersebut.
Segera saya mengkonfirmasi pemberitahuan tersebut ke BPKA. Saat itu sempat menghadapi kesulitan karna BPKA tengah sibuk mengurus ospek mahasiswa baru dan saya hampir terabaikan. Namun setelah e-tiket serta susunan acara telah dikirim oleh panitia ke email saya, semua masalah pun terselesaikan.
Tibalah saat dimana saya harus berangkat dengan baju seadanya. Persiapan seadanya karna pemberitahuan yang mendadak. Serta saya juga harus meninggalkan mahasiswa baru yang menjadi tanggung jawab saya saat ospek di kampus. Sesampainya di Hang Nadim saya segera check in. Dan terbang menuju kota Kupang.
Saya mengalami transit di Surabaya selama 1 jam. Ini pertama kalinya saya mengalami perjalanan transit. Sehingga saat itu saya mengalami kebingungan bahkan hampir ketinggalan pesawat. Untung saja ada satpam yang baik hati menjelaskan semua prosedur transit yang berlaku. Dalam pesawat saya melihat empat orang anak muda yang tampak bersahabat. Cowok yang hanya satu dari mereka ini tiba-tiba saja pindah kursi ke depan saya. Dia menorehkan senyum dibibirnya. Ntah mengapa saya merasa dia adalah salah satu peserta yang panitia sebutkan sewaktu menelpon saya. Ada empat peserta lain yang berasal dari padang, jambi serta solo. Dan seharusnya saya berjumpa dengan mereka saat di bandara Juanda tadi.
Satu jam lebih sang burung besi telah terbang melintasi luasnya lautan Indonesia, pulau demi pulau kami lewati. Ini merupakan perjalanan yang paling jauh yang pernah saya alami. Setibanya di Bandara Kupang yakni El-Tari, saya berjumpa dengan bapak-bapak yang tengah memegang kertas dengan tulisan “PENTAS KUPANG”. Saya pun dengan segera menghampiri, “Pak, saya salah satu peserta Pentas, apakah kita bisa berangkat ke hotel sekarang ?” Tanya saya kepada Bapak itu. “Sebentar, kita orang lagi nunggu empat peserta lagi nona.” Jawab bapak itu. “Baiklah pak” Ucapku dengan muka letih. Setelah hampir 15 menit menunggu akhirnya keempat peserta tersebut datang juga. Setelah melihat wajah mereka, sontak dalam hati berkata “Tuh kan, benar feeling aku, mereka juga peserta.”
Sesampainya di hotel, kami disambut oleh panitia Pentas. Menikmati makan malam sembari berkenalan satu sama lain. “Kamu dari mana ?” Tanya salah satu dari mereka. “Perkenalkan nama saya sama kayak bandara Kupang, Tari. Saya dari Batam, kampus saya UIB.” Jawabku . “Oh, Perkenalkan aku Ana, ini Doni, ini kak Linda, dan Ini kak Aas.” Jawabnya sambil menunjuk satu-satu dari mereka. Selesai makan, kami pun menuju kamar kami masing-masing. Dan saya sekamar dengan kak Ana. Banyak hal yang perlu untuk saya kagumi dari sosok kak Ana, seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret yang mengambil jurusan Pendidikan sejarah. Malam itu, kami sibuk menceritakan tentang hidup kami masing-masing. Saat saya memegang tanganya, keras bagaikan kayu. Sontak saya bertanya, “Kak, kok tangan kakak keras banget ?” “Iya dek, ini tangan palsu, kakak mengalami kecelakaan saat masih kecil dan kecelakaan itu mengharuskan kakak untuk kehilangan tangan kiri kakak. Ungkap kak Ana.
Keesokan harinya, Teman-teman yang berasal dari Jakarta, bandung dan sekitarnya datang menyusul. Pagi itu juga kami saling berkenalan. Malam harinya, kami datang ke aula El Tari untuk menghadiri perjamuan makan malam dari pemerintah setempat. Disana kami dapat merasakan makanan khas Kupang yang selalu berbau jagung serta daging asap yang mengoyang lidah. Hhhmmmm, yummy. Saat malam perjamuan tersebut juga kami bisa menikmati indahnya alunan musik yang dimainkan dengan Sasando.
Segera saya mengkonfirmasi pemberitahuan tersebut ke BPKA. Saat itu sempat menghadapi kesulitan karna BPKA tengah sibuk mengurus ospek mahasiswa baru dan saya hampir terabaikan. Namun setelah e-tiket serta susunan acara telah dikirim oleh panitia ke email saya, semua masalah pun terselesaikan.
Tibalah saat dimana saya harus berangkat dengan baju seadanya. Persiapan seadanya karna pemberitahuan yang mendadak. Serta saya juga harus meninggalkan mahasiswa baru yang menjadi tanggung jawab saya saat ospek di kampus. Sesampainya di Hang Nadim saya segera check in. Dan terbang menuju kota Kupang.
Saya mengalami transit di Surabaya selama 1 jam. Ini pertama kalinya saya mengalami perjalanan transit. Sehingga saat itu saya mengalami kebingungan bahkan hampir ketinggalan pesawat. Untung saja ada satpam yang baik hati menjelaskan semua prosedur transit yang berlaku. Dalam pesawat saya melihat empat orang anak muda yang tampak bersahabat. Cowok yang hanya satu dari mereka ini tiba-tiba saja pindah kursi ke depan saya. Dia menorehkan senyum dibibirnya. Ntah mengapa saya merasa dia adalah salah satu peserta yang panitia sebutkan sewaktu menelpon saya. Ada empat peserta lain yang berasal dari padang, jambi serta solo. Dan seharusnya saya berjumpa dengan mereka saat di bandara Juanda tadi.
Satu jam lebih sang burung besi telah terbang melintasi luasnya lautan Indonesia, pulau demi pulau kami lewati. Ini merupakan perjalanan yang paling jauh yang pernah saya alami. Setibanya di Bandara Kupang yakni El-Tari, saya berjumpa dengan bapak-bapak yang tengah memegang kertas dengan tulisan “PENTAS KUPANG”. Saya pun dengan segera menghampiri, “Pak, saya salah satu peserta Pentas, apakah kita bisa berangkat ke hotel sekarang ?” Tanya saya kepada Bapak itu. “Sebentar, kita orang lagi nunggu empat peserta lagi nona.” Jawab bapak itu. “Baiklah pak” Ucapku dengan muka letih. Setelah hampir 15 menit menunggu akhirnya keempat peserta tersebut datang juga. Setelah melihat wajah mereka, sontak dalam hati berkata “Tuh kan, benar feeling aku, mereka juga peserta.”
Sesampainya di hotel, kami disambut oleh panitia Pentas. Menikmati makan malam sembari berkenalan satu sama lain. “Kamu dari mana ?” Tanya salah satu dari mereka. “Perkenalkan nama saya sama kayak bandara Kupang, Tari. Saya dari Batam, kampus saya UIB.” Jawabku . “Oh, Perkenalkan aku Ana, ini Doni, ini kak Linda, dan Ini kak Aas.” Jawabnya sambil menunjuk satu-satu dari mereka. Selesai makan, kami pun menuju kamar kami masing-masing. Dan saya sekamar dengan kak Ana. Banyak hal yang perlu untuk saya kagumi dari sosok kak Ana, seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret yang mengambil jurusan Pendidikan sejarah. Malam itu, kami sibuk menceritakan tentang hidup kami masing-masing. Saat saya memegang tanganya, keras bagaikan kayu. Sontak saya bertanya, “Kak, kok tangan kakak keras banget ?” “Iya dek, ini tangan palsu, kakak mengalami kecelakaan saat masih kecil dan kecelakaan itu mengharuskan kakak untuk kehilangan tangan kiri kakak. Ungkap kak Ana.
Keesokan harinya, Teman-teman yang berasal dari Jakarta, bandung dan sekitarnya datang menyusul. Pagi itu juga kami saling berkenalan. Malam harinya, kami datang ke aula El Tari untuk menghadiri perjamuan makan malam dari pemerintah setempat. Disana kami dapat merasakan makanan khas Kupang yang selalu berbau jagung serta daging asap yang mengoyang lidah. Hhhmmmm, yummy. Saat malam perjamuan tersebut juga kami bisa menikmati indahnya alunan musik yang dimainkan dengan Sasando.
Foto Bersama Seluruh Pesertadi Aula El Tari
Hari kedua, kami
menghadiri dialog interaktif yang bertemakan sejarah di salah satu
Universitas ternama di Kupang Yakni Universitas Nusa Cendana. Saat itu
dialog interaktif dibagi menjadi 2 sesi yakni Sesi I: Dialog Interaktif
Kesejarahan
1. Prof.Dr. Taufik Abdullah, Nusa Tenggara Timur dalam Panggung Sejarah Nasional
2. Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Kupang: Pengasingan Para Pejuang dan Simpul Ke-Indonesia-an (Kasus H. Datuk Batuah, Aceh, Dipati Amir Bahren, Bangka, dan KH. Abdussalam, Banten)
3. Prof. Dr. I Ketut Ardhana, Dinamika Penataan Nusa Tenggara Timur Pada Masa Kolonial dan Masa Kini: Mengelola Keragaman Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Moderator:
Bapak Melky Taneo
Sesi II: Dialog Budaya
Tema: Sasando, Dulu, Kini, dan Akan Datang
Pembicara:
1. Drs. Johny Thedenz
2. Nyongky Welvaart
3. Drs. I Made Purna, M. Si
Moderator: Drs. Leonardus Nahak, M.A
1. Prof.Dr. Taufik Abdullah, Nusa Tenggara Timur dalam Panggung Sejarah Nasional
2. Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Kupang: Pengasingan Para Pejuang dan Simpul Ke-Indonesia-an (Kasus H. Datuk Batuah, Aceh, Dipati Amir Bahren, Bangka, dan KH. Abdussalam, Banten)
3. Prof. Dr. I Ketut Ardhana, Dinamika Penataan Nusa Tenggara Timur Pada Masa Kolonial dan Masa Kini: Mengelola Keragaman Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Moderator:
Bapak Melky Taneo
Sesi II: Dialog Budaya
Tema: Sasando, Dulu, Kini, dan Akan Datang
Pembicara:
1. Drs. Johny Thedenz
2. Nyongky Welvaart
3. Drs. I Made Purna, M. Si
Moderator: Drs. Leonardus Nahak, M.A
Sehabis Dialog Interaktif, kami
melanjutkan perjalanan ke Taman Budaya Kupang serta Museum Kupang. Di
Taman budaya Kupang, saya dapat melihat karya seni dari anak-anak Kupang
yang berbentuk lukisan serta peninggalan-peninggalan Kupang. Tak lupa
juga, kami disajikan dengan tari-tarian khas Kupang serta permainan alat
musik Sasando. Sehabis Taman budaya, kami pun melanjutkan perjalanan ke
Museum kupang. Saat itu sudah sore, dan hari mulai gelap. Kami disambut
dengan jamuan makan malam yang kembali berbau jagung, dan itu sangat
nikmat sekali. Ternyata jagung dapat diolah menjadi makanan yang gurih,
pedas, dan lain-lain. Setelah makan, kami pun melihat-lihat isi museum
serta melihat ritual jagung yang dilakukan di museum saat itu. Ritual
ini bertujuan untuk meminta berkah panen jagung pada sang dewa. Mistis
memang, tapi inilah budaya Kupang.
Taman Budaya Kupang
Museum Sejarah Kupang
Jam 21.00 WITA, kami sampai di hotel dan segera istirahat. Terutama beberapa dari kami harus take off besok subuh. Sedih bagi saya ketika mendapat peringatan untuk tidur lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat dari panitia. Malam itu adalah malam terakhir para peserta yang tidak lolos mengikuti tahap Lomba karya sejarah selanjutnya. Malam itu juga, para peserta mendapatkan sertifikat serta uang jajan untuk membeli oleh-oleh.
Taman Budaya Kupang
Museum Sejarah Kupang
Jam 21.00 WITA, kami sampai di hotel dan segera istirahat. Terutama beberapa dari kami harus take off besok subuh. Sedih bagi saya ketika mendapat peringatan untuk tidur lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat dari panitia. Malam itu adalah malam terakhir para peserta yang tidak lolos mengikuti tahap Lomba karya sejarah selanjutnya. Malam itu juga, para peserta mendapatkan sertifikat serta uang jajan untuk membeli oleh-oleh.
Malam itu saya tidak dapat tidur dengan
tenang, setelah membereskan semua baju. Saya naik ke atas hotel.
Memandangi langit Kupang dimalam hari. Mitosnya, sering terjadi bintang
jatuh di langit malam Kupang. Lama melihat ke atas, leher saya merasakan
pegal. Akhirnya saya menyerah dan kembali ke kamar dengan raut muka
yang sedih. Sayang sekali, saya tidak bisa melihat bintang jatuh di Kota
Kupang ini.
Keesokan subuhnya, saya kesiangan bangun. Ternyata jam handphone saya masih menunjukkan waktu WIB, bukan WITA. Sedangkan WITA, 1 jam lebih cepat dari WIB. Akhirnya, tanpa mandi saya langsung bergegas ke bandara. Panitia cemas kami ketinggalan pesawat. Setelah duduk di kursi penumpang. Saya pun menghela nafas lega. “Syukurlah, ga jadi warga tetap Kupang” Bisik dalam hati. Sesampainya di Bandara Juanda, saya beserta peserta yang lain yakni kak Linda harus berpisah. Karna kak Linda akan menaiki pesawat yang berbeda untuk terbang ke Jambi. “Bye bye kak linda, semoga kito jumpo lagi yo kak” Teriaku di pintu transit.
“Selamat Datang di Bandara Hang Nadim.” Thanks God, Pengalaman yang tidak terlupakan. Mengunjungi kota paling timur Negara Indonesia, dengan sejuta keindahan alam serta budayanya. Saya adalah orang yang beruntung bisa menginjakan kaki ke kota Kupang dengan gratis.
Ayoo, teman-teman. Rajinlah menulis. Maka tulisanmu akan menerbangkanmu ke seluruh tempat yang kamu mau. Cheerss buat penulis-penulis muda.
Keesokan subuhnya, saya kesiangan bangun. Ternyata jam handphone saya masih menunjukkan waktu WIB, bukan WITA. Sedangkan WITA, 1 jam lebih cepat dari WIB. Akhirnya, tanpa mandi saya langsung bergegas ke bandara. Panitia cemas kami ketinggalan pesawat. Setelah duduk di kursi penumpang. Saya pun menghela nafas lega. “Syukurlah, ga jadi warga tetap Kupang” Bisik dalam hati. Sesampainya di Bandara Juanda, saya beserta peserta yang lain yakni kak Linda harus berpisah. Karna kak Linda akan menaiki pesawat yang berbeda untuk terbang ke Jambi. “Bye bye kak linda, semoga kito jumpo lagi yo kak” Teriaku di pintu transit.
“Selamat Datang di Bandara Hang Nadim.” Thanks God, Pengalaman yang tidak terlupakan. Mengunjungi kota paling timur Negara Indonesia, dengan sejuta keindahan alam serta budayanya. Saya adalah orang yang beruntung bisa menginjakan kaki ke kota Kupang dengan gratis.
Ayoo, teman-teman. Rajinlah menulis. Maka tulisanmu akan menerbangkanmu ke seluruh tempat yang kamu mau. Cheerss buat penulis-penulis muda.


